Ini Respons China, Jepang Hingga Uni Eropa Soal Tarif Baru Donald Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Apr 2025, 09:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat dan China. (Foto: Reuters) Ilustrasi. Bendera Amerika Serikat dan China. (Foto: Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penerapan tarif luas terhadap barang impor yang masuk ke negaranya. Kebijakan ini mendapat beragam respons dari negara-negara yang terdampak.

Dilansir dari BBC, Jumat, 4 April 2025, Trump menyebut kebijakan ini sebagai tarif timbal balik. Ia beralasan bahwa berbagai negara selama ini menerapkan tarif yang tidak adil terhadap produk AS, sehingga kini saatnya AS memberlakukan tarif yang setara.

Trump menyatakan bahwa pendapatan dari tarif baru ini akan digunakan untuk mengurangi pajak bagi warga AS serta membantu membayar utang negara. Ia juga memaparkan bagan berjudul "Tarif Timbal Balik", yang terdiri dari tiga kolom: daftar negara, besaran tarif yang dikenakan negara-negara tersebut terhadap barang dari AS, serta tarif balasan yang diberlakukan AS terhadap mereka.

Baca Juga: RI Kena Tarif Impor AS 32 Persen, Rupiah Terancam Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS

"Mereka mengenakan biaya kepada kami, kami mengenakan biaya kepada mereka. Bagaimana mungkin ada orang yang marah?" ujarnya.

China

Beijing secara tegas menolak tarif baru yang dikenakan terhadap ekspor mereka dan berjanji untuk mengambil langkah balasan guna melindungi kepentingannya. Sebelumnya, Trump telah menetapkan tarif tinggi sebesar 34 persen untuk barang dari China, di samping tarif dasar 10 persen yang berlaku untuk semua negara. Langkah ini merupakan tambahan dari tarif 20 persen yang telah diberlakukan sebulan sebelumnya.

Pemerintah China menilai kebijakan ini bertentangan dengan aturan perdagangan internasional dan mendesak AS untuk segera membatalkannya, sembari memperingatkan bahwa tarif tersebut dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Uni Eropa

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menganggap kebijakan tarif yang diterapkan Trump sebagai pukulan besar bagi perekonomian dunia.

"Tampaknya tidak ada ketertiban dalam kekacauan ini. Tidak ada jalan yang jelas melalui kompleksitas dan kekacauan yang sedang terjadi karena semua mitra dagang AS terkena dampaknya," katanya.

Baca Juga: Indonesia Kena Dampak Kenaikan Tarif Impor 32 Persen dari Amerika Serikat

Setelah sebelumnya terkena tarif 20 persen terhadap ekspornya ke AS, Uni Eropa menyatakan siap mengambil langkah balasan lebih lanjut.

"Belum terlambat untuk menyelesaikan permasalahan ini melalui negosiasi," tambahnya.

Jerman

Asosiasi Industri Otomotif Jerman menilai kebijakan ini hanya akan menimbulkan kerugian bagi semua pihak. Mereka mendesak Uni Eropa untuk merespons dengan kekuatan yang diperlukan, tetapi tetap membuka ruang negosiasi.

Sementara itu, sektor industri kimia Jerman yang menjadikan AS sebagai pasar ekspor terbesar mereka meminta Uni Eropa untuk tetap tenang, dengan menegaskan bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memperburuk situasi.

Jepang

Menteri Perdagangan Jepang, Yoji Muto, menyatakan bahwa tarif 24 persen yang dikenakan terhadap ekspor Jepang ke AS sangat disayangkan. Ia meminta Washington untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut.

"Saya dengan tegas mendesak (Washington) untuk tidak menerapkannya terhadap Jepang," katanya.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi, menambahkan bahwa kebijakan ini berpotensi melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta perjanjian perdagangan bilateral antara AS dan Jepang.

India

Ajay Sahai, Kepala Eksekutif Federasi Organisasi Ekspor India, menilai tarif sebesar 26 persen terhadap produk India akan berdampak negatif pada permintaan ekspor mereka. Namun, ia juga melihat peluang bagi India untuk merebut pangsa pasar yang ditinggalkan oleh negara-negara lain seperti China dan Vietnam, yang mengalami dampak lebih besar.

"Tarif yang dikenakan pada India jelas tinggi dan lebih besar dari yang diperkirakan," ujarnya.

x|close