Kadin Usulkan RI Buka Pasar Baru untuk Hadapi Tarif Impor 32 Persen Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Apr 2025, 13:44
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menjawab pertanyaan wartawan saat dia ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/3/2025). Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menjawab pertanyaan wartawan saat dia ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/3/2025). (Dok.Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait tarif impor 32 persen yang diterapkan untuk Indonesia.

Anindya menyebut jika AS menindaklanjuti rencana tarif impor 32 persen untuk produk Indonesia dampak signifikan akan menimpa neraca pembayaran, khususnya neraca perdagangan dan arus investasi.

Menurutnya AS merupakan pemasok valuta asing terbesar, yang menyumbang surplus perdagangan sebesar 16,8 miliar dolar AS pada tahun 2024.

"Mitra dagang bilateral terbesar Indonesia pada tahun 2024 adalah AS yang memberikan surplus 16,8 miliar dolar AS kepada Indonesia. Hampir semua ekspor komoditas utama Indonesia ke AS meningkat pada tahun 2024," ucap Anindya dalam keterangannya, Jumat 4 April 2025. 

Baca juga: Tren Bikin Gambar Ala Ghibli, ChatGPT Hasilkan Lebih dari 700 Juta Gambar Sejak Minggu Lalu

"Sebagian besar barang Indonesia yang diekspor ke AS adalah produk manufaktur, yaitu peralatan listrik, alas kaki, pakaian, bukan komoditas mentah. Selama ini, produk Indonesia dikenakan tarif impor sekitar 10 peren di AS," sambungya.

Untuk memperkuat neraca perdagangan pasca-keputusan Trump, negosiasi perdagangan dapat dilakukan lebih selektif. Menurutnya fokus bisa dilakukan kepada industri padat karya terdampak secara vertikal, hulu hingga hilir.

Selain itu, Indonesia perlu membuka pasar baru selain Asia Pasifik dan ASEAN, yakni pasar Asia Tengah, Turki dan Eropa, sampai Afrika dan Amerika Latin.

Lebih lanjut, Anindya menjelaskan ada peluang Indonesia mempertahankan hubungan baik dengan AS sebagai mitra dagang.

"AS membutuhkan pasar bagi peralatan pertahanan, pesawat terbang, dan LNG. Kita bisa menegosiasikan hal ini dengan produk ekspor andalan Indonesia," ungkap Anindya.

AS memberlakukan Inflation Reduction Act (IRA) atau UU Penurunan Inflasi yang bertujuan menurunkan inflasi di AS, mendorong transisi energi bersih melalui insentif besar-besaran terhadap kendaraan listrik (EV), energi terbarukan (solar, angin), dan industri baterai dan semikonduktor.

Baca juga: Viral! Pemuda Nganggur Usir Kedua Orang Tua Gegara Tak Dikasih Uang

"AS bisa memberikan subsidi terhadap impor produk olahan dari nikel dan mineral lainnya dari Indonesia sepanjang mineral itu diolah sesuai standar lingkungan dan ketenagakerjaan. Hal ini dimungkinkan oleh critical minerals agreements dengan AS," tandasnya.

Seperti diketahui, Presiden Donald Trump meluncurkan tarif minimum 10 persen untuk sebagian besar barang yang diimpor ke Amerika Serikat dan bea masuk lebih tinggi pada produk dari puluhan negara.

Adapun impor China akan terpukul dengan tarif 34 persen, sekutu dekat AS tidak luput termasuk Uni Eropa, yang menghadapi tarif 20 persen, dan Jepang, yang ditargetkan untuk tingkat 24 persen.

Lebih lanjut, Indonesia juga menjadi korban perang dagang dengan kenaikan tarif impor 32 persen.

Namun Indonesia bukan satu-satunya negara Asia Tenggara yang jadi korban.

Trump juga menerapkan tarif impor ke Vietnam, Thailand, Malaysia, Kamboja dengan masing-masing tarif 46 persen, 36 persen, 24 persen, dan 49 persen.

x|close