Rusia Siap Bernegosiasi, tetapi Operasi Militer di Ukraina Tetap Berlanjut

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Feb 2025, 11:41
thumbnail-author
Katherine Talahatu
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
 Sergey Lavrov mengadakan konferensi pers bersama di Ankara, Turki Sergey Lavrov mengadakan konferensi pers bersama di Ankara, Turki (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyatakan bahwa Rusia tetap terbuka untuk negosiasi guna mengakhiri konflik di Ukraina. Namun, operasi militer akan terus berlanjut hingga negosiasi tersebut "membuahkan hasil yang tegas dan berkelanjutan yang sesuai" dengan Rusia. Pernyataan ini disampaikannya saat berkunjung ke Ankara, Turki, pada Senin, 24 Februari 2025. 

"Selama pembicaraan di Riyadh, berbagai perspektif bermunculan, tetapi kami akan melanjutkan diskusi dengan mitra-mitra diskusi kami dari Amerika," kata Lavrov dalam sebuah konferensi pers gabungan dengan Menlu Turki Hakan Fidan. 

Lavrov mengacu pada pertemuan tingkat tinggi Rusia-AS yang diikutinya pekan lalu di Arab Saudi. Pertemuan itu menjadi kontak langsung pertama antara pejabat senior kedua negara sejak krisis Ukraina pecah tiga tahun lalu. 

Lavrov mengumumkan bahwa putaran baru pembicaraan Rusia-AS pekan ini akan memulai operasi kedutaan. "Saya berharap kami tidak akan menghadapi hambatan yang dibuat-buat," katanya. 

Baca juga: Donald Trump Ajak Ukraina Bergabung dalam Perundingan Damai dengan Rusia

Ia juga menyebut bahwa pada April 2022, kesepakatan penyelesaian konflik Ukraina hampir tercapai di Istanbul, tetapi saat itu Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, menghalanginya. Lavrov menuding negara-negara Barat berupaya melemahkan Rusia.

Sementara itu, Fidan menyatakan Turki terus memantau jaminan keamanan dalam upaya diplomatik terkait konflik Ukraina. Ia menegaskan bahwa Turki berkomitmen memfasilitasi pembicaraan perdamaian.  

"Kami siap memberikan semua dukungan yang diperlukan untuk membangun perdamaian melalui negosiasi, seperti yang telah kami lakukan sebelumnya," tutur Fidan.

Ia menekankan bahwa Turki dan Rusia sejalan dalam menghadapi gerakan separatis di Suriah serta memiliki sikap yang sama terhadap keamanan regional. 

(Sumber: Antara) 

x|close