Ntvnews.id, Paris - Dua peneliti asal Prancis ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden ledakan yang mengguncang kompleks Konsulat Rusia di Marseille beberapa hari lalu. Kedua peneliti tersebut mengakui bahwa mereka telah melemparkan bahan peledak rakitan ke area konsulat.
Dilansir dari AFP, Kamis, 27 Februari 2025, kantor kejaksaan setempat, insiden itu terjadi pada Senin, 24 Februari 2025 waktu setempat. Tiga botol plastik yang berisi campuran nitrogen dan bahan kimia lainnya dilemparkan ke taman di dalam kompleks Konsulat Rusia, meskipun hanya dua di antaranya yang meledak.
Ledakan tersebut bertepatan dengan peringatan tiga tahun sejak Rusia melancarkan invasi militernya ke Ukraina pada Februari 2022. Tidak ada korban luka maupun kerusakan akibat insiden tersebut.
Baca Juga: SBY Bicara Skenario Kemungkinan Hubungan Rusia, Tiongkok dan AS
Identitas kedua peneliti yang menjadi tersangka tidak diungkap ke publik. Namun, kantor kejaksaan Prancis menyatakan bahwa mereka bekerja di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS), lembaga penelitian utama negara itu. Salah satu tersangka berprofesi sebagai insinyur, sementara yang lainnya adalah ahli kimia.
CNRS sendiri melakukan penelitian di berbagai disiplin ilmu, termasuk biologi, matematika, dan kimia. Lembaga ini juga mempekerjakan peneliti dari negara-negara bekas Uni Soviet dan berbagai negara lainnya.
Menurut laporan surat kabar La Provence, kedua tersangka merupakan pria berusia 40-an dan 50-an tahun yang diketahui ikut serta dalam aksi pro-Ukraina di depan balai kota Marseille pada hari yang sama dengan insiden tersebut.
Baca Juga: Bertemu Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Prabowo Tanyakan Kabar Vladimir Putin
Pemerintah Rusia mengecam ledakan yang terjadi di kompleks konsulatnya sebagai "serangan teroris" dan meminta penyelidikan menyeluruh dari otoritas Prancis.
Sementara itu, pemerintah Prancis mengutuk insiden tersebut dan menegaskan bahwa segala bentuk ancaman terhadap keamanan misi diplomatik tidak dapat diterima.
Kedutaan Besar Rusia di Paris menyatakan bahwa sebelum ledakan terjadi, pihaknya telah meminta otoritas Prancis untuk meningkatkan pengamanan di sekitar kantor-kantor diplomatik Rusia di negara tersebut karena adanya kemungkinan provokasi.
"Namun demikian, serangan semacam itu tetap terjadi," tulis Kedutaan Besar Rusia dalam pernyataannya melalui Telegram.