Garuda Indonesia Perkuat Fondasi Operasional untuk Maksimalkan Pertumbuhan Armada

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Mar 2025, 11:06
thumbnail-author
Dedi
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Garuda Indonesia/ist Garuda Indonesia/ist

Ntvnews.id, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat strategi akselerasi kinerja dengan mengoptimalkan alat produksi. Langkah ini diambil seiring dengan proyeksi pertumbuhan jumlah penumpang transportasi udara yang diperkirakan akan terus mengalami pemulihan dalam beberapa tahun ke depan.

Sepanjang tahun 2024, Garuda Indonesia Group berhasil mengangkut total 23,67 juta penumpang, meningkat 18,54% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan 19,97 juta penumpang. Dari jumlah tersebut, 11,39 juta penumpang diangkut oleh Garuda Indonesia (mainbrand), sedangkan Citilink melayani 12,28 juta penumpang.

Peningkatan jumlah penumpang tersebut sejalan dengan bertambahnya frekuensi penerbangan Garuda Indonesia Group yang mengalami kenaikan sebesar 12,21% dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2023 tercatat 145.500 penerbangan, maka pada tahun 2024 jumlahnya meningkat menjadi 163.271 penerbangan.

Dengan semakin kuatnya kinerja operasional, Garuda Indonesia optimistis bahwa pertumbuhan alat produksi akan menjadi faktor utama dalam percepatan kinerja perusahaan. Hingga akhir 2025, perusahaan menargetkan memiliki hingga 100 armada. Optimalisasi ini akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan prinsip Good Corporate Governance (GCG), permintaan pasar, kinerja perusahaan, serta kondisi rantai pasok dan faktor-faktor lainnya.

Optimisme ini turut didukung oleh pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia secara konsolidasi pada tahun 2024 yang meningkat sebesar 16,34%, dari US$2,94 miliar menjadi US$3,42 miliar.

Pesawat Garuda Indonesia <b>(Dok: NTVNews.id)</b> Pesawat Garuda Indonesia (Dok: NTVNews.id)

Kenaikan ini merata di seluruh lini bisnis Garuda Indonesia, terutama pada pendapatan penerbangan berjadwal yang naik 15,32% menjadi US$2,74 miliar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$2,38 miliar. Pendapatan dari angkutan penumpang meningkat menjadi US$2,57 miliar (+13,95%), sementara angkutan kargo dan dokumen mencatatkan pertumbuhan 3,07% dengan nilai US$164,70 juta.

Di sisi lain, penerbangan tidak berjadwal juga mencatatkan kenaikan 15,87% dengan total pendapatan US$333,75 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini adalah peningkatan signifikan dalam layanan angkutan charter, yang mengalami lonjakan 101,06% menjadi US$106,27 juta dari sebelumnya US$52,86 juta.

Selain itu, pendapatan dari lini bisnis lainnya juga mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 25,79%, mencapai US$340,37 juta. Kenaikan ini didukung oleh kinerja anak usaha Garuda Indonesia, seperti GMF AeroAsia yang menyumbang pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar US$102,71 juta (+18,54% YoY), serta Aerowisata yang mencatatkan pendapatan biro perjalanan sebesar US$40,96 juta (+37,12%).

Walaupun kinerja operasional mengalami peningkatan yang signifikan, Garuda Indonesia masih mencatatkan kerugian bersih sebesar US$69,78 juta pada tahun 2024. Kerugian ini disebabkan oleh meningkatnya beban usaha sebesar 18,32%, yang salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat, terutama karena beberapa armada harus menjalani perawatan besar (overhaul).

Selain itu, pendapatan lain-lain mengalami penurunan hingga 77,39%. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya transaksi extra-ordinary item seperti gain from bonds retirement dan pendapatan restrukturisasi anak perusahaan yang terjadi pada tahun 2023. Penurunan juga terjadi dalam pencatatan pembalikan impairment asset, yang jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Garuda Indonesia Garuda Indonesia

Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani Panjaitan menyatakan, “Kinerja Garuda Indonesia di sepanjang tahun 2024 merefleksikan dinamika industri transportasi udara secara global yang masih menantang. Kondisi makro ekonomi mulai dari isu rantai pasokan (supply chain), dampak fluktuasi selisih kurs, pengaruh geopolitik dan kompetisi yang semakin ketat di industri transportasi udara merupakan beberapa tantangan yang dihadapi oleh maskapai penerbangan di seluruh dunia dalam mempertahankan kinerja keuangan positif.”

Dari akhir tahun 2024 hingga kuartal pertama 2025, Garuda Indonesia telah menambah dua pesawat narrow body Boeing 737-800NG dengan kode registrasi PK-GUF dan PK-GUG. Kemudian, pada kuartal kedua 2025, perusahaan berencana mengoperasikan dua unit tambahan dari tipe yang sama, yaitu PK-GUH (MSN-44218) dan PK-GUI (MSN-44217), yang saat ini tengah menjalani proses perawatan sebelum resmi beroperasi di rute domestik dan internasional Garuda Indonesia.

Sejalan dengan peningkatan jumlah penumpang, bisnis angkutan kargo Garuda Indonesia juga menunjukkan performa yang positif, dengan pertumbuhan sebesar 34,27% dari 170,93 ribu ton menjadi 229,51 ribu ton pada tahun 2024.

Untuk layanan kargo Garuda Indonesia, tercatat kenaikan sebesar 35,65% menjadi 143,12 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 105,50 ribu ton. Peningkatan ini didukung oleh pertumbuhan angkutan kargo domestik yang naik 26,31% menjadi 81,35 ribu ton, serta kargo internasional yang melonjak 50,30% menjadi 61,77 ribu ton. Di sisi lain, Citilink juga mencatatkan pertumbuhan kargo sebesar 32,03%, dari 65,43 ribu ton menjadi 86,39 ribu ton.

“Dengan fokus optimalisasi pertumbuhan alat produksi secara berkelanjutan yang didukung penuh oleh Pemerintah RI, serta diselaraskan dengan potensi pertumbuhan trafik penumpang pesawat secara global yang diproyeksikan mencapai 9,9 miliar penumpang, kami optimis kinerja Garuda Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan di tahun 2025,” tutup Wamildan.

x|close