Ntvnews.id, Tokyo - Mencari pekerjaan di Jepang bukanlah perkara mudah, terutama bagi generasi muda yang kerap menjadi sasaran pelecehan seksual dalam proses rekrutmen.
Menurut laporan yang diterima Asosiasi Pelecehan Jepang, meskipun banyak perusahaan telah berupaya mengantisipasi kasus tersebut, pelecehan masih terus terjadi.
Dilansir dari Kyodo News, Jumat, 28 Maret 2025, berdasarkan studi dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, satu dari tiga mahasiswa pada tahun 2024 mengalami pelecehan saat mencari pekerjaan atau magang.
Situasi ini mendorong pemerintah untuk mengajukan rancangan undang-undang (RUU) yang mewajibkan perusahaan mengambil langkah pencegahan terhadap pelecehan seksual, khususnya bagi mahasiswa. RUU tersebut juga mengatur pemberian sanksi hukum bagi pelaku pelecehan.
Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual di Pondok Pesantren Ad-Diniyah Masuk Tahap Penyidikan
“Pertemuan antara mahasiswa dan karyawan alumni semakin sering terjadi karena perusahaan ingin menjaring calon pekerja di tengah persaingan ketat,” ujar seorang pejabat dari salah satu universitas di Tokyo.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa berada dalam posisi rentan, sehingga lebih mudah menjadi target pelecehan.
Kasus pelecehan seksual selama proses pencarian kerja sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak 2019. Saat itu, perusahaan menerapkan larangan pertemuan di malam hari dan melarang karyawan berbagi kontak pribadi dengan pelamar.
Salah satu kasus yang mencuat adalah penangkapan seorang karyawan perusahaan teknologi NEC Corp pada Januari karena diduga memperkosa seorang mahasiswi. Meskipun ia tidak dijatuhi tuntutan, perusahaan menindaklanjuti kasus ini dengan membuka layanan konsultasi dan mewajibkan setiap pertemuan antara staf dan mahasiswa dilaporkan ke atasan serta bagian sumber daya manusia (HR).
Baca Juga: Polisi Selidiki Kasus Pelecehan Seksual yang Memakan 6 Korban
Beberapa universitas di Jepang juga telah menetapkan pedoman pencegahan. Universitas Rikkyo, misalnya, mengidentifikasi situasi yang berpotensi berisiko bagi mahasiswa. Sementara Universitas Takushoku merekomendasikan agar pertemuan dengan alumni perusahaan hanya dilakukan di kantor atau kampus.
Di sisi lain, Kepala Asosiasi Pelecehan Jepang, Kaname Murasaki, mengimbau mahasiswa untuk berhati-hati dan tidak langsung menanggapi undangan atau pertanyaan mencurigakan terkait proses rekrutmen kerja.