Bayang-bayang Pecahnya Perang di Selat Taiwan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Apr 2025, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Dua pesawat tempur China J-11 dan satu pesawat pengebom H-6K berpatroli di wilayah udara antara China daratan dan Taiwan. Dua pesawat tempur China J-11 dan satu pesawat pengebom H-6K berpatroli di wilayah udara antara China daratan dan Taiwan. (Antara)

Ntvnews.id, Taipei - Amerika Serikat mengeluarkan peringatan pada Selasa, 1 April 2025 bahwa latihan militer yang dilakukan China di Selat Taiwan dapat membahayakan keamanan regional. Peringatan ini diberikan setelah China mengumumkan latihan baru di perairan yang memiliki sensitivitas politik tinggi tersebut.

"Aktivitas militer dan retorika China yang agresif terhadap Taiwan hanya akan memperburuk ketegangan serta mengancam keamanan regional dan kemakmuran dunia," ungkap Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, dikutip dari BBC, Kamis, 3 April 2025.

Pernyataan dari Washington dikeluarkan ketika militer China memasuki hari kedua latihan besar-besaran di wilayah perairan dan udara sekitar Taiwan pada Rabu, 2 April 2025.

Latihan militer yang diberi kode "Strait Thunder-2025A" berlangsung di bagian selatan dan tengah Selat Taiwan. China menyatakan bahwa tujuan dari latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam memblokade Taiwan dan melancarkan serangan presisi.

Militer China melanjutkan latihan dengan kode nama "Strait Thunder-2025A" di bagian tengah dan selatan Selat Taiwan, setelah latihan dimulai sehari sebelumnya.

Baca Juga: Warga Jepang Dekat Pulau Taiwan Diwacanakan untuk Evakuasi, Kenapa?

Latihan ini juga bersamaan dengan kunjungan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth ke Asia, di mana ia terus-menerus mengkritik Beijing.

Komando Teater Timur China menyatakan bahwa latihan ini bertujuan untuk menguji kemampuan pasukan dalam mengendalikan wilayah, melakukan blokade bersama, serta melancarkan serangan presisi terhadap target-target penting. Latihan ini juga mencakup identifikasi dan verifikasi, peringatan dan pengusiran, serta pencegatan dan penahanan.

Menurut seorang pejabat senior keamanan Taiwan, lebih dari 10 kapal perang China berada di "zona respons" Taiwan pada Rabu pagi, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters. Zona ini merujuk pada zona identifikasi pertahanan udara Taiwan, yaitu area yang dipantau oleh militer Taiwan.

Dalam 24 jam terakhir, Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa 76 pesawat militer dan 15 kapal perang China terdeteksi di sekitar pulau tersebut. Taiwan mengecam latihan ini, tetapi sejauh ini belum ada tanda-tanda latihan tembak langsung.

Bagaimana reaksi Internasional?

Selain AS, yang merupakan pendukung utama Taiwan serta pemasok senjata terbesar meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, Jepang dan Uni Eropa juga mengungkapkan keprihatinan mereka.

"Uni Eropa memiliki kepentingan langsung dalam menjaga status quo di Selat Taiwan. Kami menentang segala tindakan sepihak yang mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan," kata juru bicara Uni Eropa.

Baca Juga: Abu Mendiang Barbie Hsu Akan Dibawa Pulang DJ Koo ke Taiwan pada 6 Februari

Meskipun demikian, pasar keuangan Taiwan tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh latihan ini. Indeks saham utama Taiwan mengalami kenaikan sekitar 0,4% pada Rabu, 2 April 2025.

Di sisi lain, surat kabar Global Times yang dikelola oleh Partai Komunis China melaporkan bahwa peralatan militer canggih digunakan dalam latihan ini. Foto yang diterbitkan menunjukkan rudal balistik udara YJ-21 yang dibawa oleh pesawat pengebom H-6K.

Latihan militer sebelumnya oleh China juga berfokus pada serangan presisi dan pemblokiran Taiwan.

Apa penyebab ketegangan Taiwan dan China?

Latihan militer ini terjadi di tengah retorika keras dari China terhadap Presiden Taiwan, Lai Ching-te, yang pada Selasa, 1 April 2025 disebut sebagai "parasit" oleh pemerintah China.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan bertekad untuk menyatukan pulau tersebut di bawah kendali Beijing, bahkan jika harus menggunakan kekerasan. Beijing terus mengecam Lai sebagai "separatis".

Lai, yang terpilih sebagai presiden tahun lalu, menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.

x|close