Ntvnews.id, Jakarta - Suara ledakan dan dentuman roket itu sering kali terdengar oleh penduduk kota kecil Munster. Kebisingan akibat latihan militer Jerman menjadi begitu sering hingga mereka mulai terbiasa dengan suara tersebut.
Namun, itu baru permulaan. Militer Jerman, atau Bundeswehr, diperkirakan akan semakin sering berlatih di daerah tersebut karena baru-baru ini mereka mendapat persetujuan dari parlemen untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka secara signifikan.
Jenderal Carsten Breuer, panglima militer Jerman, mengatakan kepada BBC bahwa suntikan dana tersebut sangat diperlukan karena dirinya yakin agresi Rusia tidak akan berhenti hanya di Ukraina.
"Kami terancam oleh Rusia. Kami terancam oleh Putin. Kami harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencegahnya," ujar Jenderal Breuer, dikutip dari BBC, Kamis, 3 April 2025.
Dia memperingatkan bahwa NATO harus siap menghadapi potensi serangan, setidaknya dalam empat tahun mendatang.
Baca Juga: Pesawat Militer Rusia Dekati Wilayah Jerman
"Ini bukan soal seberapa banyak waktu yang saya butuhkan, tetapi seberapa banyak waktu yang Putin beri kepada kami untuk bersiap," ujar sang jenderal dengan tegas.
"Semakin cepat kami bersiap, semakin baik." tambahnya.
Perubahan sikap Jerman sejak invasi Rusia ke Ukraina
Invasi Rusia ke Ukraina telah mengubah pandangan masyarakat Jerman tentang militer. Sejak Perang Dunia II, penolakan terhadap militerisme telah tertanam dalam pikiran masyarakat Jerman. Hal ini terkait dengan masa lalu Jerman yang dikenal sebagai agresor di Eropa.
"Kami memulai dua perang dunia. Meskipun Perang Dunia II telah berakhir 80 tahun lalu, pandangan bahwa orang Jerman harus menghindari konflik masih sangat melekat dalam diri banyak orang," kata Markus Ziener dari German Marshall Fund di Berlin.
Hingga kini, masih ada sebagian kalangan yang merasa was-was terhadap hal-hal yang berkaitan dengan militer. Bahkan, angkatan bersenjata Jerman sudah lama mengalami kekurangan anggaran.
"Ada suara-suara yang memperingatkan: 'Apakah kita benar-benar berada di jalur yang benar? Apakah persepsi kita soal ancaman sudah tepat?'"
Soal Rusia, Jerman memiliki pendekatan yang berbeda
Sementara negara-negara seperti Polandia dan negara-negara Baltik sangat berhati-hati dan berusaha meningkatkan anggaran pertahanan mereka untuk menghindari kedekatan dengan Moskow, Jerman di bawah kepemimpinan mantan Kanselir Angela Merkel tetap melanjutkan hubungan bisnis dengan Rusia.
Baca Juga: Xiaomi Bidik Penjualan Mobil Listrik di China Lebih Tinggi dari Gabungan Merek Jerman
Jerman berpikir mereka sedang berkontribusi pada demokratisasi melalui pendekatan tersebut. Namun, kenyataannya Rusia terus berbisnis sembari melanjutkan invasi ke Ukraina.
Pada Februari 2022, Kanselir Olaf Scholz mengumumkan perubahan prioritas nasional atau "Zeitenwende" untuk merespons invasi Rusia ke Ukraina.
Pada saat itu, Scholz mengalokasikan dana sebesar 100 miliar Euro (Rp1.792 triliun) untuk memperkuat kapasitas militer dan mengendalikan "para penghasut perang seperti Putin."
Namun, Jenderal Breuer mengatakan bahwa itu masih belum cukup. "Kami menutup sedikit lubang," kenangnya. "Namun, itu sangat buruk."