PM Kanada Telepon Presiden Meksiko untuk Hadapi Trump, Ada Apa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Apr 2025, 08:24
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Mantan Gubernur Bank Kanada Mark Carney yang terpilih menjadi Perdana Menteri Kanada menggantikan Justin Trudeau yang mengundurkan diri. Mantan Gubernur Bank Kanada Mark Carney yang terpilih menjadi Perdana Menteri Kanada menggantikan Justin Trudeau yang mengundurkan diri. (Antara)

Ntvnews.id, Ottawa - Perdana Menteri Kanada Mark Carney melakukan panggilan telepon dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum. Keduanya mendiskusikan persiapan untuk menghadapi kebijakan perdagangan utama yang akan diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dilansir dari Anadolu Agency, Kamis, 3 April 2025, Carney dan Sheinbaum membahas pentingnya memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara Kanada dan Meksiko.

"Dengan masa-masa sulit yang akan datang, Perdana Menteri Carney dan Presiden Sheinbaum menekankan pentingnya mempertahankan daya saing Amerika Utara sambil tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara," demikian pernyataan dari kantor Perdana Menteri Kanada.

Carney berkomitmen untuk melawan kebijakan perdagangan yang dianggap tidak adil terhadap Kanada, melindungi pekerja dan bisnis di Kanada, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Kanada. Salah satu cara yang dijanjikan adalah meningkatkan perdagangan antara Kanada dan Meksiko.

Kedua pemimpin tersebut sepakat bahwa para menteri dan pejabat senior dari Meksiko serta Kanada akan terus bekerja bersama untuk memajukan prioritas yang telah disepakati. Keduanya juga setuju untuk tetap menjaga komunikasi yang erat di tengah ancaman perang dagang yang datang dari Trump.

Baca Juga: 4 Warga Kanada Dihukum Mati di China

Trump diperkirakan akan segera mengumumkan tarif timbal balik yang dapat berdampak besar pada dinamika perdagangan di Amerika Utara. Trump berpendapat bahwa tarif ini akan menguntungkan sektor manufaktur AS, melindungi lapangan kerja, dan mengurangi defisit perdagangan.

Namun, kebijakan tersebut juga menimbulkan potensi resesi. Trump tetap bersikeras bahwa tarif tersebut sangat diperlukan.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan tarif tersebut 'layak' meskipun ada risiko ekonomi yang mungkin timbul. Sebelumnya, tarif yang diusulkan oleh Trump menargetkan China, Meksiko, dan Kanada, yang mencakup lebih dari 40 persen impor AS. Trump telah menuduh negara-negara tersebut gagal menanggulangi masalah migrasi dan perdagangan narkoba.

Trump sebelumnya mengumumkan tarif baru yang luar biasa terhadap Meksiko, Kanada, dan China. Seperti dilansir CNN pada Minggu, 22 Maret 2025, Trump menandatangani kebijakan ekonomi yang telah lama dijanjikan di klub Mar-a-Lago miliknya. Pemerintahan Trump menyatakan bahwa tarif tersebut bertujuan untuk membatasi aliran narkoba dan migrasi ilegal ke AS.

Namun, tarif tersebut diperkirakan akan menyebabkan kenaikan harga untuk berbagai barang di AS, seperti alpukat, sepatu, dan mobil. Trump mengumumkan keadaan darurat ekonomi nasional dengan menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA), yang memberikan wewenang kepada Presiden AS untuk mengelola impor secara sepihak selama masa darurat nasional.

"Hari ini, saya telah menerapkan tarif sebesar 25% untuk impor dari Meksiko dan Kanada (10% untuk energi Kanada), serta tarif tambahan sebesar 10% untuk China," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Baca Juga: Mark Carney Resmi Dilantik Jadi Perdana Menteri Kanada yang Baru!

Tarif ini awalnya direncanakan mulai berlaku pada Selasa, 4 April 2025, namun Trump memutuskan untuk menunda penerapannya terhadap Kanada dan Meksiko dengan syarat penegakan hukum perbatasan di kedua negara tetangga itu selama 30 hari.

Kini, Trump akan mengumumkan pemberlakuan tarif baru untuk impor dari berbagai negara, yang disebut Gedung Putih sebagai "Hari Pembebasan" atau Liberation Day. Pengenaan tarif tersebut diklaim untuk mengakhiri apa yang dianggap Trump sebagai praktik perdagangan yang tidak adil antara AS dan negara-negara lainnya.

x|close