Ramai-ramai Negara Lawan Kebijakan Tarif impor Donald Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Apr 2025, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kebijakan baru yang disebut sebagai Hari Pembebasan atau Liberation Day, yang akan segera diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mendapat tentangan dari berbagai negara. Kebijakan ini diperkirakan akan mengatur tarif impor terhadap berbagai barang dari luar negeri.

Trump telah mengumumkan tarif baru dalam jumlah besar yang berlaku bagi barang-barang impor dari Meksiko, Kanada, dan China.

Dilansir dari BBC, Kamis, 3 Apri 2025, Trump menandatangani kebijakan ekonomi yang telah lama ia janjikan di klub pribadinya, Mar-a-Lago. Pemerintahannya menyatakan bahwa kebijakan tarif ini dimaksudkan untuk membatasi masuknya obat-obatan terlarang serta imigran ilegal ke AS.

Namun, kebijakan tarif ini diprediksi akan menyebabkan kenaikan harga bagi konsumen AS untuk berbagai produk, mulai dari alpukat, sepatu olahraga, hingga kendaraan bermotor.

Trump juga mengumumkan keadaan darurat ekonomi nasional dengan memanfaatkan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional atau International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Undang-undang ini memberikan kewenangan kepada Presiden AS untuk mengatur impor secara sepihak dalam situasi darurat nasional.

"Hari ini, saya telah menerapkan Tarif sebesar 25% untuk impor dari Meksiko dan Kanada (10% untuk Energi Kanada), dan tarif tambahan sebesar 10% untuk China," ujar Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Baca Juga: Donald Trump Bekukan VOA, Staf Dipaksa Cuti dan Dilarang Kerja

Awalnya, kebijakan tarif ini dijadwalkan berlaku mulai Selasa, 2 Februari 2025. Namun, Trump memutuskan untuk menunda penerapan tarif bagi Kanada dan Meksiko sebagai imbalan atas peningkatan penegakan hukum perbatasan di kedua negara tersebut selama 30 hari.

Saat ini, Trump tengah bersiap mengumumkan pengenaan tarif baru untuk berbagai negara lain. Gedung Putih menyebut kebijakan ini sebagai Hari Pembebasan atau Liberation Day. Penerapan tarif ini diklaim bertujuan untuk mengakhiri praktik perdagangan yang dianggap Trump tidak adil bagi AS.

Kebijakan tarif ini diperkirakan akan berdampak besar bagi negara-negara berkembang, khususnya India, Brasil, Vietnam, serta negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika. Analisis yang dilakukan oleh Morgan Stanley menunjukkan bahwa negara-negara tersebut merupakan beberapa yang paling terdampak karena memiliki tarif tinggi terhadap barang-barang asal AS.

Ekonom dari bank investasi tersebut mencatat bahwa Brasil, Indonesia, India, Thailand, dan Vietnam memiliki sejumlah produk yang dikenakan tarif lebih dari 5% dibandingkan tarif yang diterapkan AS terhadap barang-barang dari negara-negara tersebut.

China, yang sebelumnya telah terdampak oleh kebijakan tarif tahap pertama Trump, kini bersiap melakukan tindakan balasan. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa Beijing akan merespons jika AS terus menerapkan kebijakan yang mereka anggap sebagai pemerasan.

"'America First' seharusnya bukan intimidasi Amerika, dan tidak seharusnya membangun kepentingannya sendiri atas dasar merugikan hak dan kepentingan sah negara lain," ujar Wang Yi dalam wawancara dengan media Rusia, RT.

Baca Juga: Trump Ungkap Sangat Marah ke Putin

Ia berpendapat bahwa alasan penggunaan fentanil sebagai dasar penerapan tarif tinggi terhadap barang-barang China tidak masuk akal. Wang menegaskan bahwa China tidak akan tinggal diam menghadapi kebijakan AS yang dinilai merugikan negaranya. Ia juga menekankan bahwa prinsip saling menghormati adalah norma fundamental dalam hubungan internasional.

"Jika Amerika Serikat terus memberikan tekanan atau bahkan terlibat dalam berbagai bentuk pemerasan, China akan dengan tegas melakukan serangan balik," tegasnya.

PM Kanada Bersiap Hadapi Perang Dagang dengan Trump

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, bersiap mengambil langkah untuk menghadapi perang dagang yang dipicu oleh Trump. Ia telah menghubungi Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, guna membahas strategi menghadapi kebijakan tersebut.

Dilaporkan oleh Anadolu Agency, Carney dan Sheinbaum membahas pentingnya memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara Kanada dan Meksiko.

"Dengan masa-masa sulit di depan, Perdana Menteri Carney dan Presiden Sheinbaum menekankan pentingnya menjaga daya saing Amerika Utara sambil menghormati kedaulatan masing-masing negara," demikian pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Kanada.

Carney berkomitmen untuk melawan tindakan perdagangan yang dinilainya tidak adil terhadap Kanada. Ia berjanji untuk melindungi pekerja serta pelaku usaha di negaranya, sekaligus memperkuat perekonomian Kanada. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah meningkatkan perdagangan dengan Meksiko.

Kedua pemimpin negara tersebut juga sepakat bahwa para menteri dan pejabat senior dari Kanada serta Meksiko akan terus berkoordinasi guna mendorong kepentingan bersama. Selain itu, kedua negara berkomitmen untuk tetap menjaga komunikasi erat di tengah ancaman perang dagang yang dipicu oleh kebijakan Trump.

x|close