Ntvnews.id, Jakarta - Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) mengimbau masyarakat agar menjadikan libur Lebaran sebagai kesempatan untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan menyebarkan informasi.
Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan, Noudhy Valdryno, dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta pada Rabu, menyatakan bahwa kebijaksanaan dalam menyaring dan menyebarkan informasi merupakan langkah penting dalam menjaga persatuan serta mempererat solidaritas sosial.
“Momen Lebaran adalah waktu yang penuh dengan kegembiraan, tetapi di balik itu ada ancaman gangguan informasi yang mengintai. Jadi, kita harus lebih bijaksana dalam mengonsumsi informasi. Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, semangat lebaran seyogianya menjadi momentum bagi kita untuk semakin memperkokoh persatuan bangsa dan memperkuat solidaritas sosial, bukan sebaliknya,” ujar Noudhy.
Baca Juga: Jubir PCO Tegaskan Merosotnya IHSG Bukan Karena Investor Tak Percaya Pemerintah
Ia juga menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran dalam melawan penyebaran berita bohong (hoaks), misinformasi, dan disinformasi. Oleh karena itu, kemampuan untuk memilah informasi serta memverifikasi sumber dan kebenarannya menjadi semakin penting.
Noudhy kemudian menjelaskan tiga bentuk informasi yang dapat menimbulkan ancaman, yaitu misinformasi, disinformasi, dan mal-informasi.
“Misinformasi adalah penyebaran informasi yang salah akibat ketidaktahuan, tanpa intensi menyesatkan. Ini sering kali terjadi ketika seseorang menyebarkan informasi tanpa memverifikasi terlebih dahulu kebenarannya,” kata Noudhy.
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa disinformasi mengacu pada penyebaran informasi yang tidak benar oleh pihak yang menyadari kesalahannya.
“Penyebarannya memang sengaja dilakukan dengan niatan buruk. Jika Anda menemukan informasi seperti ini segera laporkan ke Kementerian Komunikasi dan Digital melalui [email protected],” sambung dia.
Baca Juga: Jubir PCO Jelaskan Program MBG yang Berasal dari APBN dengan Mekanisme Kerja Sama
Sementara itu, mal-informasi merujuk pada informasi yang sebenarnya benar, tetapi disajikan dalam konteks yang keliru atau waktu yang tidak tepat.
“Sering kali kita menemukan informasi seperti ini yang kerap disebut cocoklogi. Data yang tidak lengkap yang disajikan untuk melahirkan kesimpulan yang keliru. Sebagai contoh, tahun ini kita dengar kabar tentang penurunan jumlah pemudik, bahkan ada yang menggunakan kata anjlok. Padahal, masa mudik lebaran belum selesai. Angka jumlah pemudik yang digunakan mungkin hanya berdasarkan taksiran sementara, bukan realisasi,” kata Deputi PCO itu.
Karena itu, Noudhy mengingatkan pentingnya masyarakat mengandalkan sumber informasi yang kredibel.
"Di era digital ini, kita sering terjebak dalam informasi yang menyesatkan, apalagi dengan adanya berbagai platform media sosial. Berbagai akun resmi pemerintah bisa menjadi verifikator bagi warga dengan data yang akurat dan terpercaya," kata Noudhy.