Ntvnews.id, Naypidaw - Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, akan melakukan perjalanan ke Thailand untuk menghadiri pertemuan regional di saat negaranya sedang mengalami pemulihan akibat gempa bumi yang menewaskan ribuan orang dan membuat kota-kota hancur.
Gempa bumi di Myanmar tengah pada hari Jumat lalu menewaskan 3.085 orang dan melukai 4.715 orang, kata junta. Ratusan orang lainnya hilang dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
Dilanisir dari BBC, Kamis, 3 Maret 2025, seorang juru bicara militer Myanmar mengatakan bahwa Min Aung Hlaing dijadwalkan terbang ke Bangkok pada hari Kamis, pada malam menjelang pertemuan puncak yang akan mengumpulkan para pemimpin dari tujuh negara yang berbatasan dengan Teluk Benggala.
Kehadirannya tidak biasa karena para pemimpin yang terkena sanksi biasanya dilarang menghadiri acara-acara seperti ini.
Baca Juga: Menlu RI Lepas Bantuan Gempa Myanmar dari Halim, Obat-obatan Hingga Nakes
Tuan rumah Thailand, di mana gempa bumi dirasakan dan menewaskan 21 orang, telah mengusulkan agar para pemimpin mengeluarkan pernyataan bersama mengenai bencana tersebut. Bangladesh, Bhutan, India, Nepal, Sri Lanka juga merupakan bagian dari pertemuan ini.
Negara-negara di seluruh dunia telah mengirimkan bantuan dan tim penyelamat ke Myanmar sejak gempa bumi, tetapi infrastruktur yang buruk dan perang saudara yang sedang berlangsung telah mempersulit upaya bantuan.
Junta mengumumkan gencatan senjata sementara pada hari Rabu untuk mempercepat upaya-upaya ini, setelah sebelumnya menolak proposal dari kelompok-kelompok pemberontak etnis bersenjata.
Sebelumnya, militer telah melanjutkan serangan udara di daerah-daerah yang dikuasai pemberontak, termasuk daerah-daerah yang terkena dampak gempa.
Pada Selasa malam, tentara menembaki konvoi Palang Merah China yang membawa pasokan bantuan. Junta militer mengatakan bahwa tentara melepaskan tembakan setelah konvoi tersebut menolak untuk berhenti meskipun sudah diberi isyarat untuk berhenti.
Baca Juga: Detik-detik Tim Alfa dan Bravo Mulai Operasi Pencarian Korban Gempa di Myanmar
Myanmar telah dilanda perang saudara berdarah sejak militer mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021, yang menyebabkan munculnya perlawanan bersenjata yang telah bertempur bersama kelompok-kelompok etnis bersenjata, beberapa di antaranya telah memerangi militer selama beberapa dekade.
Kekerasan selama bertahun-tahun telah melumpuhkan ekonomi, meningkatkan inflasi, dan menjerumuskan negara ini ke dalam krisis kemanusiaan.
Kini, gempa bumi telah memperburuk krisis tersebut. Kelompok-kelompok kemanusiaan telah mendesak junta untuk mencabut segala halangan yang tersisa untuk memberikan bantuan.
PBB juga telah mendesak komunitas global untuk meningkatkan bantuan sebelum musim hujan tiba dalam waktu sekitar satu bulan.