Geger Ramaja Dibekuk Usai Rencanakan Pembunuhan Di 5 Masjid

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Apr 2025, 09:17
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Singapura Singapura (Istimewa)

Ntvnews.id, Singapura - Seorang remaja berusia 17 tahun di Singapura ditangkap atas dugaan rencana aksi terorisme yang menargetkan lima masjid dengan tujuan membunuh 100 orang.

Ia disebut terinspirasi oleh serangan terhadap dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret 2019 yang mengakibatkan 51 korban jiwa.

Dilansir dari The Straits Times, Jumat, 4 April 2025, remaja tersebut telah mengidentifikasi lima masjid di Jurong West, Clementi, Margaret Drive, Admiralty Road, dan Beach Road sebagai sasaran potensial pada Juni 2024. Ia berencana untuk menyerang jamaah yang baru selesai menunaikan salat Jumat, kemudian mengakhiri hidupnya sendiri.

Namun, rencananya berhasil digagalkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD), yang menahannya berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) pada Maret 2025.

Pada 2 April, ISD mengungkap bahwa remaja ini adalah salah satu dari dua individu muda yang mengalami radikalisasi dan tengah berada dalam pengawasan otoritas. Kasus lainnya melibatkan seorang gadis berusia 15 tahun yang ingin menikahi anggota ISIS dan membentuk keluarga dengan ideologi pro-ISIS.

Ia menjadi remaja perempuan pertama serta individu termuda kedua yang ditahan berdasarkan ISA. Gadis tersebut bahkan dikabarkan siap berangkat ke Suriah untuk bertempur dan mati sebagai martir.

Baca Juga: Geger WNI Ditangkap Polisi Singapura Usai Ketahuan Copet Dompet

Kembali pada rencana serangan remaja laki-laki berusia 17 tahun ini, kasusnya terungkap ketika ISD menyelidiki seorang warga Singapura bernama Nick Lee (18), yang lebih dulu ditahan berdasarkan ISA pada Desember 2024. Keduanya kerap bertukar materi Islamofobia dan propaganda ekstremis sayap kanan melalui media sosial.

Meski demikian, mereka mengalami radikalisasi secara terpisah dan tidak pernah berkomunikasi mengenai rencana serangan masing-masing.

ISD menyatakan bahwa proses radikalisasi remaja 17 tahun ini dimulai pada 2022, saat ia mulai mengonsumsi konten daring yang berisi Islamofobia dan ekstremisme sayap kanan. Ditambah dengan sentimen rasisnya terhadap etnis Melayu, ia mengembangkan kebencian terhadap Islam dan komunitas Muslim.

Ia kerap mengunggah ulang materi bernuansa kebencian serta terlibat dalam diskusi daring untuk mengkritik Islam.

Baca Juga: Indonesia Punya Maskpai Baru Bernama Indonesia Airlines, Dioperasikan Perusahaan Singapura

Serupa dengan Lee, remaja ini mengidentifikasi dirinya sebagai pendukung supremasi Asia Timur, yang meyakini bahwa etnis Han Tiongkok, Korea, dan Jepang lebih unggul dibandingkan etnis Melayu dan India.

Pada November 2023, ia menonton rekaman serangan di Christchurch melalui media sosial dan mempelajari aksi pelaku, Brenton Tarrant.

Ia disebut merasa puas melihat umat Muslim ditembak dan mengidolakan Tarrant sebagai pahlawan karena melakukan pembunuhan massal. Setelah membaca manifesto daring Tarrant serta ekstremis sayap kanan lainnya seperti Stephan Balliet dan Payton Gendron, remaja itu mulai mempercayai teori Great Replacement atau "Penggantian Besar."

Teori ini dikemukakan oleh penulis Prancis Renaud Camus, yang berpendapat bahwa populasi kulit putih Eropa tengah digantikan oleh pendatang non-Eropa melalui migrasi dan demografi.

Remaja itu kemudian mengunggah narasi bahwa Singapura membutuhkan sosok seperti Tarrant untuk menembak komunitas Melayu dan Muslim agar mereka tidak menggantikan etnis Tionghoa sebagai kelompok dominan.

Pada awal 2024, ia mulai menyusun rencana untuk meniru aksi Tarrant dengan menembak umat Muslim di masjid-masjid Singapura menggunakan senapan serbu AK-47. Ia juga terdampak propaganda anti-Semit daring dan sempat berfantasi membunuh orang Yahudi, meski tidak memiliki rencana konkret untuk melakukannya.

Dalam upayanya memperoleh senjata untuk menyerang masjid, remaja ini telah beberapa kali mencoba mendapatkan akses ke persenjataan. Namun, ia gagal karena ketatnya regulasi serta tingginya biaya dan kendala teknis dalam memperoleh senjata di Singapura.

x|close