Ntvnews.id, Jakarta - Media sosial sempat dihebohkan dengan kisah Mariam Nabatanzi, wanita asal Uganda yang dijuluki paling subur di dunia. Di usia 45 tahun, ia telah melahirkan 44 anak akibat kondisi genetik langka bernama hiperovulasi.
Kisah ini menyebar luas melalui TikTok dan mengejutkan banyak warganet. Mengutip Reuters, Mariam menikah sejak usia 12 tahun dan telah melahirkan berbagai pasang anak kembar: empat kali kembar dua, lima kali kembar tiga, dan lima kali kembar empat.
Enam anaknya telah meninggal dunia. Suaminya dilaporkan kabur membawa seluruh uang keluarga, meninggalkan Mariam sendirian mengurus 22 anak laki-laki dan 18 anak perempuan.
“Saya tumbuh dengan air mata, suami saya telah memberikan saya banyak penderitaan. Seluruh waktu saya dihabiskan untuk merawat anak-anak saya bekerja untuk mendapatkan uang,” ungkap wanita tersebut.
Demi mencukupi kebutuhan keluarga, Mariam pernah bekerja sebagai penata rambut, dekorator, pengumpul besi tua, pembuat gin lokal, hingga penjual jamu. Semua penghasilannya digunakan untuk kebutuhan anak-anaknya.
“Ibu kewalahan, pekerjaannya menghancurkannya, kami membantu di mana kami bisa, seperti memasak dan mencuci, tetapi dia masih memikul seluruh beban untuk keluarga. Saya kasihan padanya,” kata anak sulungnya Ivan Kibuka (23), yang terpaksa putus sekolah.
Menurut data World Bank, rata-rata perempuan Uganda melahirkan 5–6 anak—dua kali lipat angka global. Namun Mariam sadar kondisinya berbeda. Karena terus melahirkan anak kembar, Mariam akhirnya berkonsultasi ke klinik. Dokter menyatakan ovarium Mariam terlalu besar dan mengalami hiperovulasi.
Alat kontrasepsi disebut tidak dapat menghentikan kondisi ini, bahkan bisa memicu gangguan kesehatan yang lebih serius. Meski ada pengobatan, akses layanan medis di desa-desa Uganda masih terbatas.
Dokter kandungan Uganda, Charles Kiggundu, menyatakan bahwa hiperovulasi yang dialami Mariam kemungkinan besar dipengaruhi faktor genetik.
“Kasusnya adalah predisposisi genetik untuk hiperovulasi, melepaskan banyak sel telur dalam satu siklus, yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan memiliki banyak kelahiran,” kata Kiggundu.
Menurut Mayo Clinic, sindrom ini memang jarang terjadi, namun bisa menyebabkan komplikasi serius seperti cairan di rongga tubuh, pembekuan darah, gagal ginjal, hingga gangguan pernapasan.