Mengapa Setelah Liburan Jadi Malas? Kenali Post-Holiday Blues

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Apr 2025, 15:30
thumbnail-author
Katherine Talahatu
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Banyak orang berkumpul di gunung saat liburan. Banyak orang berkumpul di gunung saat liburan. (Instagram Mataramnow)

Ntvnews.id, Jakarta - Setelah libur panjang, banyak orang mengalami post-holiday blues, istilah dalam psikologi yang menggambarkan perasaan tidak bersemangat akibat perbedaan drastis antara kebebasan saat liburan dan rutinitas harian.

Psikolog klinis dewasa lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan meskipun liburan sering dianggap mampu meningkatkan kebahagiaan dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan ada dampak positif yang cenderung cepat memudar begitu seseorang kembali ke aktivitas sehari-hari. 

"Setelah menikmati liburan yang menyenangkan, banyak orang mengalami post-holiday blues, yaitu perasaan malas, kurang bersemangat, atau bahkan stres saat harus kembali ke rutinitas kerja atau sekolah. Ini wajar terjadi karena adanya kesenjangan besar antara suasana liburan yang bebas dengan rutinitas yang penuh tanggung jawab," ungkap Teresa pada Jumat, 4 April 2025.  

Baca juga: 8 Cara Efektif Mengatasi Post-Holiday Blues Setelah Libur Lebaran

Menurutnya, liburan memberikan dampak positif karena berbagai faktor, salah satunya adalah antusiasme terhadap destinasi yang telah lama dinantikan, yang dapat meningkatkan suasana hati secara signifikan. Selain itu, liburan juga memiliki makna emosional bagi banyak orang, terutama bagi perantau, karena momen ini menjadi kesempatan berharga untuk berkumpul bersama keluarga.

Ia juga menjelaskan bahwa liburan identik dengan kebebasan, eksplorasi, dan fleksibilitas, berbeda dengan rutinitas sehari-hari yang lebih terstruktur dan penuh tanggung jawab.

Fenomena post-holiday blues, atau rasa enggan untuk kembali ke aktivitas harian setelah liburan, terjadi karena perubahan drastis dari waktu luang yang santai menjadi jadwal yang padat, tekanan pekerjaan, serta rasa kesepian setelah kembali dari kampung halaman. 

"Liburan sering kali memberikan excitement tinggi, terutama jika itu adalah perjalanan impian atau momen berkumpul dengan keluarga yang jarang ditemui. Setelah kembali, terjadi gap emosional yang besar, sehingga muncul perasaan kosong atau kehilangan," katanya.

Teresa mengungkapkan bahwa rasa lelah setelah perjalanan jauh, perubahan zona waktu, serta tumpukan pekerjaan yang menanti bisa menjadi pemicu munculnya post-holiday blues

Baca juga: Tren Bikin Gambar Ala Ghibli, ChatGPT Hasilkan Lebih dari 700 Juta Gambar Sejak Minggu Lalu

Meski umumnya hanya berlangsung sementara dan membaik dalam beberapa hari, Teresa mengingatkan bahwa dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius, seperti depresi, kecemasan, atau bahkan burnout.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi sulit fokus dalam waktu lama, perasaan sedih atau cemas yang tak kunjung hilang, gangguan tidur, perubahan drastis dalam pola makan, hingga hilangnya minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai. 

"Jika gejala di atas berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, membuat sulit bekerja, belajar, atau berinteraksi dengan orang lain, maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental seperti psikolog," saran psikolog yang praktek di klinik Vajra Gandaria, Jakarta Selatan.

(Sumber: Antara)

x|close