Ntvnews.id, Jakarta - Mobil listrik Xiaomi SU7 yang membawa tiga gadis remaja mengalami kecelakaan fatal di jalan raya Provinsi Anhui, China, yang mengakibatkan kematian ketiga penumpangnya pada 29 Maret 2025.
Dikutip dari CarNewsChina, Sabtu, 5 April 2025, kecelakaan ini segera menarik perhatian besar pengguna internet di China.
Mobil tersebut sedang dalam mode berkendara cerdas NOA dan mendeteksi adanya rintangan. Sistem mobil berusaha mengambil alih kendali dan melakukan pengereman, tetapi sayangnya, mobil tersebut menabrak sisi jalan dengan kecepatan 97 km/jam.
Tragedi ini menimbulkan keraguan tentang Xiaomi dan teknologi mengemudi cerdas secara umum. Selain itu, banyak yang mulai meragukan teknologi mengemudi cerdas dan bagaimana fitur tersebut dipromosikan.
Disebutkan jika ibu dari pengemudi yang meninggal dalam kecelakaan itu beberapa kali memperingatkan putrinya mengenai bahaya "terlalu percaya pada fungsi mengemudi cerdas."
Namun, sang putri menanggapi dengan mengatakan jika fitur tersebut "aman digunakan". Media juga menyoroti bagaimana iklan dan promosi yang berlebihan terkait teknologi mengemudi cerdas telah menciptakan kebingungan tentang konsep tersebut.
Banyak produsen mobil, khususnya yang fokus pada kendaraan listrik, sering menggunakan frasa seperti "mengemudi cerdas tingkat tinggi", "menghindari rintangan secara otomatis", atau bahkan "bebaskan tangan Anda" untuk memasarkan sistem ADAS tingkat L2 mereka.
Ungkapan-ungkapan tersebut bisa menyesatkan konsumen yang tidak familiar dengan teknologi ini, hingga mereka percaya ika mobil dapat menangani "sebagian besar" pengemudian, yang berisiko menyebabkan hilangnya fokus di jalan.
Selain itu, beberapa video promosi menampilkan kreator konten yang melepaskan tangan dari kemudi dan membiarkan mobil berjalan sendiri untuk waktu yang lama.
Ini berpotensi menyesatkan konsumen untuk menyalahgunakan sistem ADAS L2 dan menggunakannya tanpa memperhatikan keselamatan. Bahkan, muncul video seorang pengemudi SU7 yang tertidur saat mobil melaju di jalan raya.
Banyak produsen mobil mulai menyadari masalah ini. Tesla telah menghapus nama FSD dari materi promosi ADAS-nya, dan pemerintah China mengumumkan jika mereka akan mengatur penggunaan bahasa pemasaran untuk kendaraan pintar di masa depan.
Persaingan di pasar mobil China kini banyak berfokus pada fitur berkendara cerdas, dengan berbagai produsen mobil mengklaim sistem mereka "lebih baik dari yang lain".
Hal ini menjadikan teknologi berkendara cerdas sebagai salah satu faktor utama dalam keputusan pembelian, terutama di kalangan generasi muda yang lebih terbuka terhadap teknologi baru.
Oleh karena itu, penting adanya regulasi yang lebih ketat mengenai pemasaran fitur-fitur ini, serta proses edukasi yang lebih menyeluruh bagi konsumen sebelum mereka membeli kendaraan dengan teknologi canggih tersebut.
Meskipun demikian, ini tidak berarti produsen mobil harus sepenuhnya disalahkan atas kecelakaan, namun pengemudi yang harus bertanggung jawab atas keselamatan diri mereka sendiri.